catatan perjalananWisata Gunung

Misteri Gunung Semeru – 24 jam berselimut pasir di zona kematian (blank 75)

Kisah nyata pendakian gunung semeru yang penuh misteri di tahun 2012

Gunung Semeru…
Salah satu Gunung di Jawa Timur yang sampai saat ini masih menjadi salah satu tujuan favorit para pendaki di Indonesia.

Dengan menyandang predikat sebagai Gunung Tertinggi di Pulau Jawa, dan menjadi bagian dari 7 puncak tertinggi di Indonesia
Gunung Semeru dengan sejuta keindahannya mampu menghipnotis setiap mata yang melihatnya.

Hal ini terbukti dengan munculnya film 5cm.
Sebuah Film Indonesia yang memperlihatkan pesona alam di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini.

Namun dibalik keindahan alam yang mempesona itu, tersembunyi berbagai mitos dan misteri yang menyelimutinya.

Seperti legenda yang dikenal di masyarakat jawa dan hindu bahwasanya gunung semeru merupakan tempat bersemayam para dewa.

Dalam artikel ini saya tidak akan menceritakan legenda tersebut…
Tetapi menceritakan sebuah kisah perjalanan haru yang memberikan pengalaman dan pelajaran khusus bagi saya.

Sehebat apapun Anda, Sekuat apapun fisik Anda.
Di dalam sana, Anda hanyalah sehelai daun diantara luasnya hutan yang kapan saja bisa hilang tersapu badai. Baihaki Achmad Ubay

Kisah ini berawal dari ajakan seorang teman yang kemudian terbentuklah 9 orang dari berbagai latar belakang.

Singkat cerita, kami memulai perjalanan pada hari selasa, 9 Oktober 2012 dari Ranupani.
Kami start dari Ranu Pani pada pukul 16.00 WIB dan sampai di Ranu Kumbolo pada pukul 20.00 WIB.

Hanya ada beberapa tenda saat itu, dan mereka sedang dalam perjalanan turun.
Berarti besok, kemungkinan hanya rombongan kami yang melanjutkan perjalanan menuju kalimati.

Rabu, 10 Oktober 2012, kami melanjutkan perjalanan menuju kalimati.
Dan benar saja, hanya rombongan kami yang sedang dalam perjalanan naik saat itu.

Sejauh ini, perjalanan kami terasa menyenangkan tanpa hambatan yang cukup berarti.
Kecuali suhu dingin di malam hari yang terasa menusuk hingga ke tulang.

Cuaca cerah mendukung perjalanan kami saat itu.

Kamis dinihari, tepatnya pukul 02.00 WIB, kami mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan menuju puncak Mahameru.
Kecuali 1 orang bernama Tile yang berkomitmen untuk tetap standbye di tenda sekaligus menjaganya.

saat itu, kami membawa sekitar 5 botol air minum dan makanan ringan seperti roti dan cemilan yang terbagi kedalam 2 Daypack.
1 Daypack di punggung saya dan 1 lagi dibawa oleh Empung.

Sampai di Puncak, pukul 08.00 WIB. Kami sampai di puncak dan terdengarlah berbagai teriakan dari kawan-kawan meluapkan kebahagiaan serta kepuasannya.

” Mahameruuuuuuuu ” ” Woooooooh “

Saat itu, Titik tertinggi gunung semeru serasa milik pribadi, karena memang tidak ada orang lain lagi selain kami.

Saya dan 7 orang lainnya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memuji ciptaan Allah ini.
berfoto-foto serta menikmati keindahan alam dari atap Pulau Jawa.

Terlihat air dalam tas yang saya bawa tinggal ½ botol ukuran 1,5 liter. Kami pun menahan pengeluaran air tersebut untuk perjalanan turun menuju tenda di kalimati.

Saat ingin beranjak turun, Cungkring menawarkan diri untuk bergantian membawa Daypack. Alhamdulillah, ada juga yang ngajakin gantian, biar kata isinya udah kosong. 😀

Kami pun mulai turun dengan langkah sungguh mengasikkan untuk berjalan turun diatas pasir ini.

Tebalnya debu dan teriknya sinar matahari menghapuskan konsentrasi saya. Kemudian saya terjatuh dan “dagg” , terdengar benturan antara batu dan lutut saya.

Saya menggeram menahan sakit, Sementara imang langsung menghampiri dan menanyakan kondisi saya saat itu. Tentu dengan bahasa nyelenehnya.. ” Ngapa lu nyet ? “

” ghmmm, gapapa mang, lanjut dahh, gua break dulu.. “ . Jawab saya mengira kalau saya berada akhir barisan.

AKHIR DARI CANDA TAWA KEBAHAGIAAN

Sakit di lutut kanan saya sudah mulai tak terasa.
Saya berdiri dan melihat kepulan debu pertanda mereka belum terlalu jauh.

Ketika ingin berjalan, Tiba-tiba saja Empung menegur dengan berjalan pincang . “Ngapain lu bay?” .

” Lah, lu bukannya di depan Pung ?, bocah kaga ada yang nemenin onoh berarti. “. tanya saya heran.

Dia pun berhenti sambil melihat kearah kepulan asap sisa langkah teman-teman yang lain.

” Kaki gua ngebet banget bay.. Anak-anak paling nungguin ntar di cemoro tunggal, yuk ah lanjut pelan-pelan.” Jawabnya santai.

Saya pun berjalan di depan dengan menahan rasa sakit yang kembali menyerang lutut yang sempat terbentur.

Beberapa kali saya terjatuh karena tak mampu menahan sakit. Disertai rasa haus yang mulai menyerang akibat debu pasir yang masuk ke tenggorokan.

Sesaat, saya menyadari ada yang berbeda dari jalur yang saya lalui. Pasir ini sungguh halus, tanpa adanya bebatuan dan kerikil sama sekali. Agak sulit menghentikan langkah jika sudah turun di pasir halus ini.

Saya pun berhenti dan melihat ke belakang, “Pung, kayanya salah jalur dah ?”

“Ntar dulu bay, gak yakin gua”. Jawab Empung yang juga sedang berhenti mengamati area sekitar.

Tak lama, dia teriak, ” Bay, Naek lagi, ke kiri. “ .

“Hah ?” . Rasanya males banget naik lagi. Pengennya ngambil jalur pintas aja ngelewatin bukit pasir di sebelah kiri.

Tapi, yaah saya menepis nafsu tersebut dan naik lagi hingga bisa melipir ke jalur sebelah kiri.

Kami pun sampai di Jalur yang sebenarnya. Di tempat kami berdiri ini tidak ada tanda sama sekali dari 6 kawan kami yang tadi turun lebih dulu.

TERIAKAN MISTERIUS

Disini kami beristirahat sejenak menahan rasa haus dan terik mentari yang mulai tinggi. Jam yang terlihat sangat menyilaukan mata menunjukkan waktu pukul 10.30 WIB .

Berarti sudah 1½ jam kita turun… Lama jugaa..

Saya pun bangun dan mengajak Empung untuk melanjutkan perjalanan,.

“Yok Pung. Bocah di Arcopodo kali.!?”, pikir saya berharap mereka benar di Pos Arcopodo.

“Bay, Suara Imang tuh, denger gak lu ?” serunya kaget.

Saat itu, saya jelas-jelas tidak mendengar suatu teriakan apapun. Apalagi teriakan Imang yang benar-benar kami kenal ciri khasnya.

Tak lama, saat saya mulai melangkah turun, saya mendengarnya. “Baaaaay, Puuuuung… Woooooy” .Itu Jelas suaranya Imang…

“Pung, iya itu teriakan Imang..!?”, seru saya sambil mencari asal suara tersebut.

Empung juga mencari asal suara tersebut. dan kembali suara itu bergema dari dalam hutan.

“Dari bawah yaa??? “ , Tanya saya meminta pendapat Empung yg mulai terlihat cemas .

” kayanya, yaudah lanjut bay”, jawabnya lemas.

Sampai di Arcopodo, masih tak terlihat tanda dari mereka.

Kamipun melanjutkan perjalanan secara perlahan dengan harapan mereka sudah menyiapkan makanan di tenda.

Sampai di pintu tenda, Tile yang baru bangun menyapa kami,. “weei, sampe juga lu pada, yang laen mana ?”

Saya dan Empung kaget mendengar pertanyaan tersebut.

“KEMANA YANG LAIN ?”

Saya yang sudah sangat lemah karena lutut yang terasa menyiksa selama perjalanan turun, menyerahkan keputusan kepada Empung. Terlihat jelas dia juga sudah sangat lelah dan terpincang-pincang.

“Gimana Pung ?”

Dia menunduk dan menjawab pelan. “lu istirahat aja dulu bay, 2 jam gak balik kita cari anak-anak.”.

Saya pun masuk kedalam tenda dan memeriksa kondisi lutut yang ternyata sudah memar., begitupun Empung yang juga sudah lelah plus rasa cemas akan keadaan timnya.

Setelah rasa nyeri itu menghilang sedikit demi sedikit, saya merebahkan diri sambil memikirkan dimana posisi mereka sebenarnya ?. Dan tanpa sadar saya pun tertidur karena kelelahan.

SURVIVOR’S STORIES

Bang Iwan menghentikan perjalanan dan mengatakan “Salah jalur ini kita”.
Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, terlihat sebuah jurang yang cukup dalam.

Mereka pun melihat kondisi jurang tersebut dengan harapan ada jalur untuk turun. Tetapi dengan jelas terlihat kedalaman tebing curam itu lebih dari 20 meter.

Di dasar tebing tersebut, Bang Iwan dan Dower melihat sebuah kursi singgasana kerajaan. Dengan beberapa benda berbentuk Pagoda di sekitarnya.

Mereka menyembunyikannya. Bahkan Bang Iwan pun tidak tahu kalau Dower juga melihat hal tersebut. Begitupun sebaliknya.

Dari situ, mereka pun mulai beradu pendapat.

Ada yang menyerukan untuk menaiki punggungan pasir disebelah kiri atau kanan jalur tersebut.
Ada yang memaksa mencoba lanjut berharap bisa turun melalui tebing tersebut.

KEMBALI PADA JALUR YANG SAMA

Dedot, Cungkring, dan Dower, secara keras mengatakan bahwa mereka harus naik lagi.
Imang, Bang Iwan, dan Tompel, yang awalnya berbeda pendapat pun akhirnya menyetujui hal tersebut. Bahwa mereka harus naik lagi.

Air di Tas mereka tinggal setengah botol. Hal itu mengharuskan mereka menahan pengeluaran air dengan cara meminumnya secara perlahan.
yaitu meminumnya dengan ukuran tutup botol per orang.

Semua hal yang membuat tenggorokan seret mereka hindari, seperti rokok dan cemilan.

Mereka kembali berjalan naik. Tetapi Pasir halus yang mereka lalui membuat perjalanan terasa sangat berat. Terlebih sengatan panas mentari yang saat itu berada tepat diatas kepala mereka.

3 Jam perjalanan, pada pukul 12.30 WIB, mereka merasa bahwa sudah cukup jauh mendaki pasir tersebut. Dengan tubuh yang sudah sangat lemah, mereka mulai mencari jalur pendakian yang sebenarnya .

Akhirnya mereka melintasi beberapa bukit pasir ke arah barat. Kemudian mereka kembali turun dan berharap itu adalah jalur pendakian yang benar.

Namun, tidak dapat dipercaya, mereka kembali kepada jurang yang sama, dengan kursi singgasana dan perhiasannya. Botol minum mereka pun mulai terlihat menipis.

Saat itu, beberapa diantara mereka sudah terlihat menyerah dan pasrah karena kondisi tubuhnya sudah sangat lemah.

Bahkan Dower saat itu menyatakan penyerahannya. “Bang, Gua udah gak kuat, Tinggalin gua aja bang disini. Nanti kalo udah balik jemput gua lg ya.”
Dedot dan Bang Iwan memaksa mereka untuk tidak menyerah dan naik kembali .

” Ngomong apaan lu? Kita berangkat bareng, pulang juga kudu bareng… Jalan lu, kita pasti bisa keluar.”

FATAMORGANA

Mereka kembali mendaki dengan merangkak. Celana dan jaket mereka sudah terlihat sobek karena goresan batu dan pasir yang panas.

Sepatu yang digunakan Bang Iwan bahkan sudah terbelah dua, dan terlihat bercak darah disekitarnya.

Rasa haus ditengah teriknya mentari yang membakar kulit mereka membuat kondisi mereka semakin melemah.

mereka mulai melihat halusinasi yang menggoda mental mereka untuk menyerah.

Ada yang melambaikan tangan kepada helicopter yang sebenarnya tidak pernah ada.
Ada yang melambaikan tangan kepada orang lain yang sebenarnya pucuk pohon yang bergoyang karena angin.
Ada yang mengetuk pintu meminta air yang sebenarnya adalah batu besar.

satu per satu dari mereka saling mengingatkan, dan saling menjaga.

Satu tumbang, Satu membangunkannya.
Satu menyerah, satu menyemangatinya.

Keadaan tersebut benar-benar membentuk keadaan mereka untuk lebih perduli kepada temannya dibandingkan dirinya sendiri.

Hari mulai sore, dan mereka pun sampai pada titik yang cukup tinggi dari sebelumnya, hampir setengah perjalanan dari puncak Mahameru.

Tak kuat menanjak lagi, mereka pun mencoba kembali untuk berpindah lebih jauh ke arah barat. Mereka mulai bersemangat kembali dengan jalur yang mereka yakin itu jalur turun yang sebenarnya.

Namun, mereka kembali ke jurang yang sama.

ANTARA GHOIB DAN NYATA

Mereka sudah agak berputus asa untuk kembali naik. 2 kali mereka berpindah jalur, namun tetap saja menuju tempat yang sama.

Pukul 05.00 WIB, suhu udara sudah mulai memperlihatkan perubahannya, mereka mulai kedinginan dan menggigil.

Imang menemukan sebuah pohon besar yang berada di sekitar mereka berdiri. Satu-satunya pohon kering yang tumbuh di pasir tempat mereka berpijak.

Dibelakangnya, mereka melihat gundukan pasir yang cukup tinggi, mereka memilih tempat tersebut untuk menghindari angin yang berhembus. Dengan resiko yang sudah dibicarakan oleh mereka.

“Kalo ini pasir longsor, kita mati kekubur bareng-bareng”.

Mereka pun beristirahat di tempat tersebut dan sebagian berusaha membakar satu-satunya pohon dihadapan mereka.

Entah bagaimana caranya, mereka berhasil membakar pohon tersebut.

Setelah pohon terbakar, mereka melihat cahaya senter dari saya yang mencari mereka.

“Imaaaang, Dedooot, Cungkriiiing… “ Teriak saya..

“Baaaaay, gua disiniiii”., teriaknya sambil berlari menuju arah saya yang berada di arcopodo.

Karena terhalang gundukan pasir.. Dedot menaiki gundukan pasir tersebut dan tiba-tiba cahaya senter serta teriakan saya menghilang tanpa jejak.

AWAL PENCARIAN

Empung yang semakin cemas menunggu kedatangan 6 orang lainnya membangunkan saya yang tertidur..

” Bay, Jam 3 nih, bocah belom balik juga… “

Saya bangun dengan kaget, “haah, lu baru bangunin gua Pung.?” .. tanya saya sedikit kaget karena tertidur cukup lama.

“Yaudah yuk cari bocah..” , jawabnya lemas..

Belum sempat kami beranjak, Tile datang membawa air, “ada yang baru dateng tuh, anak Mapala ***** , disuruh makan bareng noh kita.”

Kami pun menghampiri mereka. Namun, teringat teman kami yang tidak tahu kabarnya membuat makanan ini tak tertelan.

Akhirnya, berbekal 1 botol air 1½ liter, kami mencari teman-teman kami yang entah berada dimana.

Empung berpendapat kalau mereka memasuki jalur lain, kami pun berpencar memasuki hutan ke arah timur.

Tanpa ada hasil, Jam 17.00 WIB, kami kembali berkumpul di jalur pendakian ke arah Arcopodo.

“Kuat lu bay naik lagi? Kalo gak kuat gapapa, gua aja yang naik. Lagian juga pasti nyampe sono udah gelap, gak ada headlamp lagi, senter di Tas anak-anak semuanya.”, Tanya Empung,.

“Temen gua diatas Pung, masa iya gua nyantai-nyantai disini, Ayoo, Lu ikut kan Le!? ” .

“Ayo, Bentar gua ambil aer lagi di tenda.sama headlamp gua.!” balas Tile.

Berbekal 1 liter air dan 1 buah headlamp, kami ber-3 memulai kembali pencarian menuju ke Arcopodo.

Tak disangka dan sulit dimengerti.. dengan kaki yang sudah tak sanggup berjalan, dalam waktu 20 menit, kami sudah sampai di Arcopodo.

Saya Kembali meneriaki nama mereka, “Imaaaang, Dedooot, Cungkriiiing….”

Dan alangkah bahagianya saya melihat cahaya senter mereka dibarengi teriakan balasan si Imang. “Baaay gua disinii bayyy”.

Tile yang baru sampai meminta waktu istirahat sejenak, sedangkan Empung belum terlihat…

DUA PILIHAN NYAWA

Saya berfikir mereka butuh pertolongan secepatnya. Karena itu saya berlari duluan menuju batas vegetasi agar lebih dekat dengan mereka. “bilang Empung, anak-anak ada diatas, gua duluan…”

Hari sudah mulai gelap, sampai di batas vegetasi seharusnya cahaya senter mereka semakin terang terlihat.

Tapi, yang saya temui hanyalah kegelapan dengan suara angin yang begitu kencang…

Empung dan Tile mendekati saya dan ikut meneriakan nama mereka…
Tak ada Hasilll… Angin semakin kencang serasa menusuk-nusuk kulit muka kami..

Saat itu, Tiba-tiba tile menggigil hebat…

“Luu ngapa le?”. tanya saya sambil membawanya ke pepohonan agar terhindar dari hembusan angin yang cukup kencang itu.

Saya kembali mendekati empung yang suaranya mulai melemah dan air mata mulai mengalir dari matanya..

“Anak-anak gimana kabarnya bay? Ayo cari Bay..!!”. Katanya sambil menatap ke arah timur berharap melihat tanda dari kawan-kawan kami.

“Pung!!!, Gua juga gak mao kaya gini..!!, mereka juga temen gua…!! Tapi ini udah gelap, Lu liat Tileee udah pucett onohh… Lu yang ngajarin gua buat ngeduluin yang bisa ditanganin kan..

Gua gatau posisi anak anak dimana, gua juga gatau gua bisa balik lagi kesini apa nggak kalo maksain nyari mereka…

Tapi Tile masih bisa dibantu, gua gak mao keilangan temen di depan mata gua.. Yok, bantu Tile dulu,” Jawab gua yang udah bingung juga mulai kedinginan.

Tapi kembali dia menanyakan hal yang sama, “Anak-anak gimana bay?” .. Mukanya juga udah pucet. mungkin gua juga udah pucet cuman gak liat aja kondisi komuk sendiri…

“ntar malem Anak Mapala ***** muncak, Gua bakal ngikut lagi buat nyari anak-anak.. Yoo turun dulu…” Bujuk gua sambil ngerangkul ngajakin dia turun..

Akhirnya kami turun dengan rasa lemas, Empung jalan di depan, disusul Tile, dan Gua di belakang.

APA YANG SEBENARNYA TERJADI?

Di tengah perjalanan turun, Tile dan Empung masih tetap mempertanyakan hal yang sama… “Anak-anak gimana bay?”

” Haaaarrrrrrrrrgh”, disini gua bener-bener udah gak bisa nahan emosi buat teriak dan juga ikut menangisi teman-teman saya yang belum diketahui kondisinya..

Di perjalanan turun itu saya melihat bayangan hitam besar menyerupai kaki raksasa. Berada tepat di sisi kiri dan kanan perjalanan kami.

Saya sendiri tidak mengerti itu halusinasi atau nyata.

Sesampainya kami dikalimati, saya berteriak sekencang-kencangnya bersama dengan hujatan, caci maki terhadap diri sendiri menyesali pernyataan saya untuk turun..

Di kalimati terlihat jelas cahaya senter mereka bersama kobaran Api yang cukup besar diatas sana.

“Gak mungkin kalo kita gak bisa liat api sebesar itu dari atas sana”. “Apa yang sebenernya terjadi ?” pikir saya

“Gua yang salah Bay, ini semua salah gua udah ngebawa lu semua kesini. Maapin gua..”, Empung bicara sendiri sambil tertunduk menangisi keadaan mereka.

Kami pun kembali ke tenda mapala ******* sambil mengatakan keaadan tersebut. Saya meminta tolong dengan penuh harap kepada mereka,
“gua minta tolong kalo emang ngeliat temen gua.. tolong dibawa turun bang, gimanapun kondisinya,, kalo emang nanti kuat, gua juga izin buat ikut muncak bareng kalian..” dengan terisak saya terus memohon..

Di dalam tenda, kami mendoakan keselamatan untuk mereka.. kami meminta maaf, dan menyesali keadaan saat ini…

Setiap 1 jam sekali, saya dan empung terbangun berharap mereka kembali ke dalam tenda..

Dalam mimpi, saya melihat mereka melambaikan tangan menjauhi kami, entah apa maksud dari mimpi tersebut..

“Besok, lu tunggu di sini ya bay, gua mau turun laporan ke basecamp.” kata empung.

SUARA DANGDUT DI KETINGGIAN

Ketika melihat senter dan teriakan saya menghilang, Dedot kembali turun dengan lemas.

Saat hari mulai gelap, mereka merapatkan barisan menghangatkan diri bersama diatas pasir untuk beristirahat..

Dengan pakaian seadanya yang sudah sobek-sobek, tanpa tenda, tanpa pakaian yang menghangatkan tubuh mereka. Tanpa air dan makanan.

Satu persatu mulai terlelap, mereka saling menjaga.. Ketika api mulai padam, mereka semakin merapatkan tubuh memeluk satu sama lainnya.

Satu dari mereka selalu terbangun memastikan kondisi yang lain. Di saat Dower terjaga, ia mendengar suara musik dangdut dari kejauhan.. Ia pun membangunkan yang lain..

Dedot yang menyadari bahwa itu adalah musik gamelan, menyuruhnya kembali tidur dan tidak perlu menghiraukan musik tersebut.. 3000 meter, jauh dari pemukiman, gak mungkin ada dangdut..

Setelah musik itu menghilang, dedot memeriksa kondisi dari masing-masing individu. Dan ia menemukan Imang yang sudah tidak bernafas. Alhasil dia memukuli Imang berharap ia bangun dari tidurnya, dan tak lama dia pun bangun dengan kaget karena dipukuli..

KETIKA RASA HAUS MENGALAHKAN AKAL SEHAT

Banyak cerita aneh saat malam itu, mulai dari mimpi hingga kenyataan yang tak masuk akal.

Bang Iwan terbangun dari tidurnya untuk buang air, Dedot mengamatinya sambil berjaga. Ketika Bang Iwan buang air, Dedot dengan pelan mengatakan hal yang tidak diduga…

“Bang, Kok dibuang? Sayang-sayang bang buat minum” . Katanya sambil mengeluarkan botol kosong.

“Gila lu ya, lu aja sono minum sendiri kencing lu.”

Dedot pun mulai mengisi botol tersebut dengan air seninya.. dengan harapan dahaganya bisa terpuaskan.

Namun belum sempat meminumnya, Ia muntah-muntah hanya dengan mencium baunya..

“mungkin kalo uapnya udah keluar gak bau kali ya”, pikirnya sambil menaruh botol itu dalam keadaan terbuka.

beberapa jam kemudian, ia kembali mencoba untuk meminumnya. Namun pada tegukan pertama ia kembali muntah.. tak menyerah, ia mencobanya lagi dan dilihat oleh yang lain.

dalam keadaan sangat haus dan mulut penuh pasir, satu persatu dari mereka mulai melakukan hal yang sama, di botol yang sama… Hingga akhirnya botol tersebut kembali terisi penuh oleh cairan berwarna merah kecoklatan.

Mereka pun bertahan malam ini dengan cairan tersebut.

Jam 3.00, beberapa dari mereka terbangun, dan berharap ada pendaki yang mendaki ke puncak hari ini. Namun mereka tak melihat adanya tanda-tanda pendaki lain yang sedang mendaki.

Jam 4.00, mereka kembali mencoba untuk mendaki dengan harapan bisa keluar dari tempat tersebut.

PERTOLONGAN ALLAH ITU NYATA

Ketika matahari terbit, mereka mulai menghangatkan diri masing-masing..

tompel yang ingin mencari lokasi lebih tinggi, melihat seseorang yang sedang mengangkat tongkatnya seperti memanggil.

“Bang, Ada orang”… teriaknya kepada yang lain.

Imang dan dedot sedikit kurang percaya karena fatamorgana kemarin hari, tapi mereka mencoba untuk mendekati tompel dan benar saja itu adalah manusia.

” Baaang, tunggu disitu, jangan kemana-mana, biar gua yang nyamperin”… teriak imang takut keadaan seperti kemarin terulang kembali.

Dedot berlari menghampiri orang tersebut, dan ketika itu dedot terjatuh dengan tangannya masuk kedalam pasir..

Saat diangkat, percaya atau tidak, ia menemukan 1 botol penuh air bersih, dengan botol yang terlihat seperti sudah lama terbuang.

Mereka pun melampiaskan rasa haus mereka sejenak lalu melanjutkan perjalanan menghampiri orang tersebut.

Setelah bertemu dua orang itu, mereka memeluknya dan berterima kasih..

Mereka segera di bantu turun dan diberikan air minum yang sudah mereka siapkan.

KEBAHAGIAAN ANTARA NYATA DAN KHAYAL

Disaat saya membantu Empung packing untuk turun, seseorang berusaha membuka tenda kami dari luar..

Saya membuka tenda tersebut.. dan.. ” Bruggg” Dedot jatuh kedalam memberitahukan keadaannya…

Saya segera keluar mencari yang lain, dan menemukan seseorang yang membawa mereka..
Saya sangat berterima kasih kepadanya dan mereka menceritakan hal yang tidak terduga.

“kita dari sore sudah ngeliat senter diatas, terus ngirim 2 orang buat bawain air ke arcopodo pas sore kemarin”.

“HaaaaH ? Seriusan mas, saya kemaren sore sampe jam 19.30 itu diatas juga mas nyari mereka…”

Kami tidak melihat mereka disana, begitupun mereka, yaa, wallahualam…

Yang terpenting 6 teman kami saat itu dapat kembali dengan selamat…

(kiri ke kanan) Dower, Cungkring, Dedot, Tompel, Imang, Bang Iwan

“Saya udah minta tolong mas sama mapala itu buat bantu cari pas mereka naik nanti, saya juga mau ikut naik kalau kuat, tapi udah lemes akhirnya ketiduran..”

mereka memberikan pernyataan yang membuat respect saya terhadap mapala tersebut mendadak menghilang.

Setelah memasak makanan untuk para survivor dan memberikan mereka waktu untuk beristirahat, kami pun berpamitan untuk segera turun…

1 Tahun setelah kejadian itu, saya kembali mengenang kejadian tersebut dengan pergi kesana. Dan berujung mengevakuasi seorang pendaki yang hampir memasuki jalur blank 75. Padahal udah rame saat itu, masih aja ada yang masuk kesana..

MAAF DAN TERIMA KASIH BANG.

Buat orang-orang yang tau cerita ini, terlibat dalam kejadian ini dan kebetulan membaca cerita ini. Saya mewakili teman-teman mengucapkan rasa terima kasih atas bantuan kalian.

Saya juga minta maaf karena waktu itu lupa memperkenalkan diri dan meminta contact abang-abang sekalian.

mungkin karena suasanya yang udah campur aduk kali yaa… kalau kalian baca ini, hubungi kita ya bang, siapa tau kita bisa berjumpa dan bersilaturahmi kembali..

Tags

Lensa Kusam

Lensa Kusam ... Blog panduan , Tips , dan Catatan petualangan terlengkap yang pernah ada. Mengupas tuntas pembahasan tentang mendaki gunung, fotografi, blogging, dan editing video.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close